Sahabat

by 22.49 0 komentar

            Sampai saat ini Laras masih belum menyadari bahwa luka itu telah menjadi penyakit untuk dirinya sendiri. Dia tidak sadar betapa dahsyatnya dampak dari luka yang tidak pernah dia sembuhkan. Mungkin dia mencoba untuk bersabar dan bertahan. Namun, luka tetaplah harus disembuhkan.
            “Laras. Ada film bagus nih, nonton yuk!” ajak Putri sahabatnya, saat datang berkunjung ke rumahnya.
            “Boleh. Yuk..” jawabnya berusaha tersenyum ramah.
            Putri dan Laras sudah menjalin persahabatan selama satu tahun. Putri sering datang berkunjung ke rumah Laras, karena dia sering ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya yang sibuk bekerja di luar kota. Laras tidak mempunyai kakak ataupun adik yang bisa untuk diajak bermain.
            “Haha... dasar cengeng.” Ucap Putri sambil menyeka airmatanya.
            “Apaan. Kamu juga ya.”balasnya sambil ngeledek sahabatnya itu.
            “Oh iya, tau gak. Hari ini aku seneng banget. Cerpen yang aku tulis kemarin masuk final. Duh, sudah gak sabar nih, nunggu hasilnya. Semoga saja aku bisa lolos dan cerpennya bisa diterbitin di buku.”
            “Wah, hebat. Selamat ya.” Laras lagi-lagi terlihat berusaha untuk tersenyum. Entah kenapa, ada guratan yang menggores di hati Laras, dan gurtan kecil itu seperti melukai guratan-guratan yang lainnya.
            Putri berusaha untuk mengabaikan prasangkanya dan mulai bercerita kembali.
            “Oiya, bukan cuma itu aja, Ras. Tadi aku ketemu Pak Darto, katanya dia sangat tertarik sama tulisanku, dan secara khusus memberikan satu halaman buat tulisanku di majalah kampus.”Putri terlihat sangat antusias.
            “Oh, selamat ya.”balas Laras, namun senyum yang dipaksakan itu kini terlihat sangat jelas di mata Putri.
            “Kamu kenapa sih, Ras? Apa kamu gak senang dengar aku dapat berita baik?”tanya Putri terlihat sangat sedih. Selama ini dia berusaha untuk bersabar menghadapi sikap Laras yang perlahan mulai aneh dan menyebalkan. Namun, sepertinya kali ini Putri sudah tidak tahan lagi melihat sosok Laras yang setiap pandangannya selalu dingin.
            Laras tersentak kaget mendengar pertanyaan Putri.
Entahlah. Aku sendiri tidak tahu, Put. batinnya.
***
            
(6 bulan yang lalu)
Laras dan Putri terlihat asik di depan laptop masing-masing. Mereka berdua sibuk dengan dunia khayalan mereka. Laras dan Putri memiliki cita-cita yang sama yaitu menjadi seorang penulis. Putri yang mengetahui Laras pernah memenangkan berbagai macam perlombaan menulis, menjadi sangat tertarik dan selalu berusaha untuk mendapatkan banyak ilmu dari Laras.
            “Ras. Gimana menurut kamu dengan ceritaku ini?” Putri menyerahkan laptopnya pada Laras. Mata Laras terlihat menari-nari dari kiri ke kanan saat membaca setiap kalimat yang ditulis oleh Putri. Sesekali dahinya berkerut kemudian tersenyum sambil menganggukkan kepala. Tangan kanannya sibuk memainkan mouse dari menit ke menit.
            “Kalau ada yang aneh, di ganti aja Put. Aku percaya kok sama kemampuan kamu.” Lanjut Putri sambil membereskan buku-bukunya. Laras hanya menganggukkan kepalanya sekali. Dia terlihat begitu menikmati cerita yang ada di depannya. Kemudian jemarinya pun mulai menari-nari diatas keyboard. Setelah merasa puas dengan editannya, Laras kemudian menyerahkan laptop itu kembali kepada Putri. “Ras, aku buru-buru. Aku pergi duluan ya. Makasih loh, sudah dibantuin. Daaah.” Tanpa men-shut down-terlebih dahulu, Putri langsung menutup laptopnya dan pergi meninggalkan perpustakaan.
            Beberapa hari setelah itu, di depan kelas. Putri datang sambil marah.
“Laras, lo sebenarnya bisa gak sih nulis? Gara-gara hasil editan lo cerita gw jadi hancur, tau gak?” Putri berteriak tepat didepan kursinya. Teman-teman sekelasnya merasa kaget dengan kedatangan Putri. Laras terlihat canggung, dia sangat syok melihat reaksi dan mendengar ucapan sahabatnya. Kemudian dengan sekuat tenaga Laras berusaha untuk berdiri. Dia melihat kesekeliling kelas. Semua mata tertuju pada mereka berdua. Sambil menahan emosi diapun berkata sambil memejamkan mata dan menelan ludah.
“Engga. Gw gak bisa.” Kemudian dia pun pergi meninggalkan Putri. Laras berjalan melewati koridor sambil menahan sakit hatinya. Dia berteriak karena kekesalannya dan betapa ia merasa tersakiti dengan ucapan sahabatnya itu. Namun semua itu hanya berkecamuk di hatinya, dan hanya derai airmata yang bisa dia keluarkan. Laras memang anak yang sulit untuk mengungkapkan isi hatinya dan tidak berani untuk mengambil sikap tegas. Ini bukan pertama kalinya dia merasa tersakiti dengan kelakuan sahabatnya yang sering egois dan kekanak-kanakan. Selama ini Laras berusaha untuk bersabar dan menahan diri. Namun sayangnya, kesabarannya dinodai dengan perasaan sakit hati. Hingga menjadi luka untuk dirinya sendiri.
***
“Aku, tidak pernah bermaksud seperti itu,Put.” Laras mencoba untuk menjelaskan. Namun genangan airmata di wajah Putri sudah jatuh membasahi pipinya. Beberapa bulan belakangan Putri menjadi anak yang sensitif, dan mudah menangis. Dia banyak mengalami perubahan yang luar biasa. Sekarang Putri menjadi anak yang penyabar dan bisa mengendalikan emosinya sendiri.
“Tapi.. kenapa kamu selalu terlihat tidak suka, Ras? Setiap aku bercerita, sorot matamu selalu dingin.” Lanjut Putri.Laras hanya terdiam. Pikirannya berkecamuk. Lagi-lagi dia membatin pada dirinya sendiri.
Kumohon, jangan mendesakku seperti ini.
Kumohon, bersabarlah padaku.
Laras dan Putri sama-sama terdiam. Selama setengah jam kedua sahabat itu berkecamuk dengan pikiran mereka masing-masing. Kemudian Putripun mengambil tasnya.
“Aku pulang dulu, Ras. Sudah sore. Assalamualaykum.”
“Waalaykumsalam.”
***
Cuaca pagi di hari Minggu saat itu begitu menyegarkan. Setiap Minggu mereka selalu meluangkan waktu untuk berolahraga. Putri dan Laras berlari mengitari taman sambil mengenakan sepatu sport kembar mereka yang dibeli beberapa bulan yang lalu. Walaupun benang kusut diantara mereka belum terurai.Mereka berdua sama-sama berusaha untuk menjaga hubungan satu sama lain, seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
“Haus nih, beli minum dulu yuk.”Ajak Laras.
“Boleh.”
Putri dan Laras pun kemudian duduk di bawah pohon menikmati angin sepoi-sepoi, menyejukkan tubuh mereka yang basah karena keringat.
“Ingat gak sih, saat kita pertama kali ketemu. Waktu itu kamu kan nyasar masuk kamar mandi cowok. Terus kamu langsung teriak sekuat tenaga, saat ada aak laki-laki yang beridiri di hadapanmu.” Putri memulai pembicaraan.
“Haha.. iya. Dan kamu mengira aku dijahilin anak laki-laki, akhirnya kamu dengan percaya dirinya masuk kamar mandi cowok lalu menghajar cowok yang ada di depanku.” Lanjut Laras sambil tertawa terbahak-bahak.
“Setelah itu kamu langsung lari keluar, dan masuk kamar mandi cewek.” Lanjut Putri.
Mereka berdua tertawa lepas saat mengenang kejadian itu.
“Dulu, kamu kan tomboi banget, Put. Gak takut sama sekali sama yang namanya cowok, bahkan setiap cowok kamu tantangin terus.”
“Hahha.. iya ya. Dulu kenapa aku bisa kayak gitu ya. Kalau diingat –ingat lagi. Dulu aku egois banget, termasuk sama kamu.”lanjutnya.
Laras hanya tersenyum.
“Laras. Maafin aku ya. Dulu aku sering jahat dan egois sama kamu.”lanjut Putri.
Lagi-lagi Laras hanya tersenyum. 

Jika dulu kamu tokoh antagonisnya, sekarang akulah si tokoh antagonis itu.Akumembencimu, Put.Dan aku membenci diriku sendiri yangvtelah membencimu. Batin Laras

Semua tekanan, semua sakit hati, dan semua kata-kata yang ingin dilontarkannya selama ini berkecamuk di pikiran dan hatinya. Semua perang batin dan pikirannya itu tumpah dalam bentuk airmata.
“Kamu kenapa nangis, Ras?” tanya Putri.
Laras berusaha tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya.
“haha.. Pasti dulu aku sangat menyebalkan.” Lanjut Putriberusaha mencairkan suasana.
“Emang, kamu dulu egois banget. Ingat gak sih. Waktu kamu marahin aku di depan kelas. Aku malu banget tahu. Aku sakit hati banget kamu bentak kayak gitu.”tanpa sadar Laras mengeluarkan unek-uneknya. Putri pun tersenyum menatap Laras.
“Nah, gitu donk, Ras. Kalau kamu mau marah, silahkan marah. Jangan ditahan, nanti jadi penyakit.”lanjut Putri ramah. Putri benar, setelah Laras mengungkapkan semua unek-uneknya, persaannya sedikit lebih lega. “Maafin aku juga ya Put, kalau belakangan ini aku jadi jahat sama kamu.” Laras menatap sahabatnya itu dengan tulus.
“Aku senang, Ras. Punya sahabat kaya kamu.”
“Aku juga Put, makasi ya sudah mau jadi sahabat aku.”
Mulai saat itu Laras berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak lagi menahan perasaannya. Dia tidak ingin menyakiti dirinya sendiri ataupun Putri sahabatnya.
Ya, Allah ridhoilah persahabatan kami ini, sebagaimana Engkau meridhoi persahabatan Nabi Muhammad dengan sahabat-sahabatnya. Jadikanlah kami sahabat yang akan memberikan syafaat satu sama lain di akhirat kelak. Aamiin.


Depok, 14 Maret 2014

0 komentar:

Posting Komentar