Sampai saat ini Laras masih belum
menyadari bahwa luka itu telah menjadi penyakit untuk dirinya sendiri. Dia
tidak sadar betapa dahsyatnya dampak dari luka yang tidak pernah dia sembuhkan.
Mungkin dia mencoba untuk bersabar dan bertahan. Namun, luka tetaplah harus
disembuhkan.
“Laras. Ada film bagus nih, nonton
yuk!” ajak Putri sahabatnya, saat datang berkunjung ke rumahnya.
“Boleh. Yuk..” jawabnya berusaha
tersenyum ramah.
Putri dan Laras sudah menjalin
persahabatan selama satu tahun. Putri sering datang berkunjung ke rumah Laras,
karena dia sering ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya yang sibuk bekerja di
luar kota. Laras tidak mempunyai kakak ataupun adik yang bisa untuk diajak
bermain.
“Haha... dasar cengeng.” Ucap Putri
sambil menyeka airmatanya.
“Apaan. Kamu juga ya.”balasnya
sambil ngeledek sahabatnya itu.
“Oh iya, tau gak. Hari ini aku
seneng banget. Cerpen yang aku tulis kemarin masuk final. Duh, sudah gak sabar
nih, nunggu hasilnya. Semoga saja aku bisa lolos dan cerpennya bisa diterbitin
di buku.”
“Wah, hebat. Selamat ya.” Laras
lagi-lagi terlihat berusaha untuk tersenyum. Entah kenapa, ada guratan yang
menggores di hati Laras, dan gurtan kecil itu seperti melukai guratan-guratan
yang lainnya.
Putri berusaha untuk mengabaikan
prasangkanya dan mulai bercerita kembali.
“Oiya, bukan cuma itu aja, Ras. Tadi
aku ketemu Pak Darto, katanya dia sangat tertarik sama tulisanku, dan secara
khusus memberikan satu halaman buat tulisanku di majalah kampus.”Putri
terlihat sangat antusias.
“Oh, selamat ya.”balas Laras, namun
senyum yang dipaksakan itu kini terlihat sangat jelas di mata Putri.
“Kamu kenapa sih, Ras? Apa kamu gak
senang dengar aku dapat berita baik?”tanya Putri terlihat sangat sedih. Selama
ini dia berusaha untuk bersabar menghadapi sikap Laras yang perlahan mulai aneh
dan menyebalkan. Namun, sepertinya kali ini Putri sudah tidak tahan lagi
melihat sosok Laras yang setiap pandangannya selalu dingin.
Laras tersentak kaget mendengar
pertanyaan Putri.
Entahlah.
Aku sendiri tidak tahu, Put. batinnya.
***
(6 bulan yang lalu)
Laras dan Putri terlihat asik di
depan laptop masing-masing. Mereka berdua sibuk dengan dunia khayalan mereka.
Laras dan Putri memiliki cita-cita yang sama yaitu menjadi seorang penulis.
Putri yang mengetahui Laras pernah memenangkan berbagai macam perlombaan
menulis, menjadi sangat tertarik dan selalu berusaha untuk mendapatkan banyak
ilmu dari Laras.
“Ras. Gimana menurut kamu dengan
ceritaku ini?” Putri menyerahkan laptopnya pada Laras. Mata Laras terlihat menari-nari
dari kiri ke kanan saat membaca setiap kalimat yang ditulis oleh Putri.
Sesekali dahinya berkerut kemudian tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Tangan kanannya sibuk memainkan mouse
dari menit ke menit.
“Kalau ada yang aneh, di ganti aja
Put. Aku percaya kok sama kemampuan kamu.” Lanjut Putri sambil membereskan
buku-bukunya. Laras hanya menganggukkan kepalanya sekali. Dia terlihat begitu
menikmati cerita yang ada di depannya. Kemudian jemarinya pun mulai menari-nari
diatas keyboard. Setelah merasa puas
dengan editannya, Laras kemudian menyerahkan laptop itu kembali kepada Putri.
“Ras, aku buru-buru. Aku pergi duluan ya. Makasih loh, sudah dibantuin. Daaah.”
Tanpa men-shut down-terlebih dahulu,
Putri langsung menutup laptopnya dan pergi meninggalkan perpustakaan.
Beberapa hari setelah itu, di depan
kelas. Putri datang sambil marah.
“Laras,
lo sebenarnya bisa gak sih nulis?
Gara-gara hasil editan lo cerita gw jadi hancur, tau gak?” Putri
berteriak tepat didepan kursinya. Teman-teman sekelasnya merasa kaget dengan
kedatangan Putri. Laras terlihat canggung, dia sangat syok melihat reaksi dan
mendengar ucapan sahabatnya. Kemudian dengan sekuat tenaga Laras berusaha untuk
berdiri. Dia melihat kesekeliling kelas. Semua mata tertuju pada mereka berdua.
Sambil menahan emosi diapun berkata sambil memejamkan mata dan menelan ludah.
“Engga.
Gw gak bisa.” Kemudian dia pun pergi meninggalkan Putri. Laras berjalan
melewati koridor sambil menahan sakit hatinya. Dia berteriak karena kekesalannya
dan betapa ia merasa tersakiti dengan ucapan sahabatnya itu. Namun semua itu
hanya berkecamuk di hatinya, dan hanya derai airmata yang bisa dia keluarkan.
Laras memang anak yang sulit untuk mengungkapkan isi hatinya dan tidak berani
untuk mengambil sikap tegas. Ini bukan pertama kalinya dia merasa tersakiti
dengan kelakuan sahabatnya yang sering egois dan kekanak-kanakan. Selama ini
Laras berusaha untuk bersabar dan menahan diri. Namun sayangnya, kesabarannya
dinodai dengan perasaan sakit hati. Hingga menjadi luka untuk dirinya sendiri.
***
“Aku,
tidak pernah bermaksud seperti itu,Put.” Laras mencoba untuk menjelaskan. Namun
genangan airmata di wajah Putri sudah jatuh membasahi pipinya. Beberapa bulan
belakangan Putri menjadi anak yang sensitif, dan mudah menangis. Dia banyak
mengalami perubahan yang luar biasa. Sekarang Putri menjadi anak yang penyabar
dan bisa mengendalikan emosinya sendiri.
“Tapi..
kenapa kamu selalu terlihat tidak suka, Ras? Setiap aku bercerita, sorot matamu
selalu dingin.” Lanjut Putri.Laras hanya terdiam. Pikirannya berkecamuk.
Lagi-lagi dia membatin pada dirinya sendiri.
Kumohon, jangan
mendesakku seperti ini.
Kumohon, bersabarlah
padaku.
Laras
dan Putri sama-sama terdiam. Selama setengah jam kedua sahabat itu berkecamuk
dengan pikiran mereka masing-masing. Kemudian Putripun mengambil tasnya.
“Aku
pulang dulu, Ras. Sudah sore. Assalamualaykum.”
“Waalaykumsalam.”
***
Cuaca
pagi di hari Minggu saat itu begitu menyegarkan. Setiap Minggu mereka selalu
meluangkan waktu untuk berolahraga. Putri dan Laras berlari mengitari taman
sambil mengenakan sepatu sport kembar mereka yang dibeli beberapa bulan yang
lalu. Walaupun benang kusut diantara mereka belum terurai.Mereka berdua
sama-sama berusaha untuk menjaga hubungan satu sama lain, seolah-olah tidak
terjadi sesuatu.
“Haus
nih, beli minum dulu yuk.”Ajak Laras.
“Boleh.”
Putri
dan Laras pun kemudian duduk di bawah pohon menikmati angin sepoi-sepoi, menyejukkan
tubuh mereka yang basah karena keringat.
“Ingat
gak sih, saat kita pertama kali ketemu. Waktu itu kamu kan nyasar masuk kamar
mandi cowok. Terus kamu langsung teriak sekuat tenaga, saat ada aak laki-laki
yang beridiri di hadapanmu.” Putri memulai pembicaraan.
“Haha..
iya. Dan kamu mengira aku dijahilin anak laki-laki, akhirnya kamu dengan
percaya dirinya masuk kamar mandi cowok lalu menghajar cowok yang ada di
depanku.” Lanjut Laras sambil tertawa terbahak-bahak.
“Setelah
itu kamu langsung lari keluar, dan masuk kamar mandi cewek.” Lanjut Putri.
Mereka
berdua tertawa lepas saat mengenang kejadian itu.
“Dulu,
kamu kan tomboi banget, Put. Gak takut sama sekali sama yang namanya cowok,
bahkan setiap cowok kamu tantangin terus.”
“Hahha..
iya ya. Dulu kenapa aku bisa kayak gitu ya. Kalau diingat –ingat lagi. Dulu aku
egois banget, termasuk sama kamu.”lanjutnya.
Laras
hanya tersenyum.
“Laras.
Maafin aku ya. Dulu aku sering jahat dan egois sama kamu.”lanjut Putri.
Lagi-lagi
Laras hanya tersenyum.
Jika dulu kamu tokoh
antagonisnya, sekarang akulah si tokoh antagonis itu.Akumembencimu, Put.Dan aku
membenci diriku sendiri yangvtelah membencimu. Batin
Laras
Semua
tekanan, semua sakit hati, dan semua kata-kata yang ingin dilontarkannya selama
ini berkecamuk di pikiran dan hatinya. Semua perang batin dan pikirannya itu
tumpah dalam bentuk airmata.
“Kamu
kenapa nangis, Ras?” tanya Putri.
Laras
berusaha tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya.
“haha..
Pasti dulu aku sangat menyebalkan.” Lanjut Putriberusaha mencairkan suasana.
“Emang,
kamu dulu egois banget. Ingat gak sih. Waktu kamu marahin aku di depan kelas. Aku
malu banget tahu. Aku sakit hati banget kamu bentak kayak gitu.”tanpa sadar
Laras mengeluarkan unek-uneknya. Putri pun tersenyum menatap Laras.
“Nah,
gitu donk, Ras. Kalau kamu mau marah, silahkan marah. Jangan ditahan, nanti
jadi penyakit.”lanjut Putri ramah. Putri benar, setelah Laras mengungkapkan semua
unek-uneknya, persaannya sedikit lebih lega. “Maafin aku juga ya Put, kalau
belakangan ini aku jadi jahat sama kamu.” Laras menatap sahabatnya itu dengan
tulus.
“Aku
senang, Ras. Punya sahabat kaya kamu.”
“Aku
juga Put, makasi ya sudah mau jadi sahabat aku.”
Mulai
saat itu Laras berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak lagi menahan
perasaannya. Dia tidak ingin menyakiti dirinya sendiri ataupun Putri
sahabatnya.
Ya, Allah ridhoilah
persahabatan kami ini, sebagaimana Engkau meridhoi persahabatan Nabi Muhammad
dengan sahabat-sahabatnya. Jadikanlah kami sahabat yang akan memberikan syafaat
satu sama lain di akhirat kelak. Aamiin.
Depok, 14 Maret 2014